Penyakit menular seksual banyak macamnya. Salah satunya adalah Klamidia. Lalu apa itu Klamidia? Dan bagaimana cara mengobati penyakit kelamin Klamidia tersebut?

Klamidia adalah penyakit menular seksual yang menginfeksi organ reproduksi melalui bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat menyerang pria ataupun wanita melalui hubungan seksual.

Penyakit Klamidia bisa menginfeksi serviks (leher rahim), anus, saluran kencing, mata, dan tenggorokan.

Berbahayanya, penyakit ini tak terdeteksi  dan nyaris tanpa gejala. Meski, sebenarnya penyakit Klamidia bisa dengan mudah diobati bila diketahui pada awal kehadirannya.

Namun, jangan sepelekan Klamidia, bila cara mengobati penyakit kelamin ini tak kunjung dilakukan. Masalah kesehatan serius akan mengintai Anda. Bahkan, bila terjadi pada wanita akan beresiko sulit hamil.

Gejala penyakit Klamidia

Gejala penyakit Klamidia
Gejala penyakit Klamidia biasanya kurang dirasakan pada dua minggu awal setelah terpapar infeksi.

Sebelum mengulas gejala penyakit Klamidia, berikut beberapa fakta Klamidia yang bisa Anda ketahui. Dikutip dari Planet Parenthood, sebanyak 3 juta orang penduduk Amerika terinfeksi penyakit Klamidia setiap tahunnya. Dan rata-rata berusia 14 – 24 tahun.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Klamidia merupakan penyakit menular seksual yang kurang teridentifikasi kemunculannya. Sebab, tanda dan gejala awal nyaris tak terlalu dirasakan si pengidapnya.

Baru setelah satu sampai dua minggu terpapar infeksi, penderita baru mulai merasakan. Meskipun gejala tersebut datang dan hilang, sehingga tak terlalu dihiraukan.

Adapun gejala Klamidia sudah menginfeksi pada pria dan wanita adalah sebagai berikut;

Gejala klamidia pada wanita

  • Sakit perut pada area bawah
  • Keputihan berlebihan dengan warna kekuningan serta berbau busuk
  • Terjadi perdarahan di antara siklus haid
  • Mengalami demam ringan
  • Sakit ketika berhubungan seks
  • Ada perdarahan pasca berhubungan seks
  • Mengalami rasa terbakar ketika buang air kecil
  • Intensitas buang air kecil lebih sering
  • Terjadi pembengkakan di vagina atau sekitar anus
  • Mengalami iritasi di rektum

Gejala klamidia pada pria

  • Mengalami rasa sakit dan terbakar ketika buang air kecil
  • Pada penis mengeluarkan nanah, cairan encer, atau kental seperti susu
  • Testis membengkak dan terasa nyeri saat ditekan
  • Mengalami iritasi pada rektum

Baca Juga : Kenali Penyakit Menular Sifilis pada Wanita

Penyebab dan Cara Penularan Klamidia

Penyebab Klamidia
Penyebab Klamidia disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak aman dan sehat. Berganti-ganti pasangan menjadi salah satu faktor utamanya.

Dari beragam kasus penyebab Klamidia, penularan melalui bakteri Chlamydia trachomatis bisa terinfeksi melalui seks vaginal, oral, dan anal.

Bahkan cara penularan Klamidia kepada seorang wanita lebih unik lagi. Meski si pria tidak ejakulasi saat berhubungan seks, namun tetap bisa terkena penyakit tersebut. Pasalnya, tanpa lewat air mani, bakteri menular via cairan praejakulasi.

Selain itu, bila Anda sudah pernah terkena penyakit Klamidia ini risiko untuk terinfeksi kembali lebih besar. Apalagi, bila Anda berhubungan seks tanpa kondom dengan orang yang terjangkit Klamidia ini.

Mirip dengan penyakit kencing nanah atau Gonore, Klamidia bisa ditularkan dari ibu hamil kepada bayinya. Bila tertular, bayi tersebut bisa terkena pneumonia atau infeksi mata serius.

Untuk mencegah penyakit Klamidia menjangkiti ibu, ada baiknya dilakukan tes 3 hingga 4 minggu setelah perawatan untuk memastikan kondisinya.

Meski bisa menular, penyakit kelamin Klamidia tidak bisa ditularkan melalui;

  • Dudukan toilet setelah digunakan pengidap Klamidia
  • Berbagi sauna bersama penderita Klamidia
  • Berbagi kolam renang bersama pengidap Klamidia
  • Berbagi makanan dan minuman dengan orang yang terinfeksi Klamidia
  • Ciuman, pelukan, dan pegangan tangan dengan penderita Klamidia

Selain tak menular pada kondisi tertentu, ada faktor risiko yang bisa menimpa seseorang sehingga dapat terinfeksi Klamidia, diantaranya;

  • Aktif melakukan hubungan seksual sebelum berusia 25 tahun
  • Suka berganti-ganti pasangan
  • Tak memakai kondom saat berhubungan seks dengan beda pasangan
  • Mempunyai riwayat penyakit kelamin

Baca Juga : Cara Mengembalikan Keperawanan dengan Operasi Selaput Dara

Cara mengobati penyakit kelamin Klamidia

Cara mengobati Klamidia
Cara mengobati Klamidia bisa dilakukan bila Anda menghindari beragam resikonya dan datang ke dokter ahli dan mengikuti petunjuknya.

Sama dengan  penyakit kencing nanah (Gonore), penyakit Klamidia bisa diobati dengan antibiotik. Tinggal dosisnya yang harus disesuaikan oleh dokter dengan tingkat keparahan si pasien.

Lazimnya, antibiotik akan berupa pil dan diberikan dalam dosis satu kali atau beberapa kali dalam sehari. Dikonsumsinya bisa sampai 5-10 hari. Pastikan untuk menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter.

Doxycycline merupakan antibiotik yang diresepkan oleh dokter untuk pasien Klamidia.  Tidak boleh sembarangan, karena dosis ini digunakan agar pasien tak mudah terinfeksi kembali dan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik.

Selain doxycycline, ada beberapa obat yang juga diresepkan dokter untuk mengobati penyakit kelamin Klamidia. Seperti doxycycline atau tetracycline. Namun, untuk wanita hamil, Azithromycin terbukti lebih aman dan efektif.

Berikut cara mengobati penyakit kelamin Klamidia dengan pilihan antibiotik alternatif yang direkomendasikan oleh Centers Disease for Control and Prevention untuk mengobati penyakit klamidia:

  • Erythromycin
  • Levofloxacin
  • Ofloxacin

Bila Anda mengonsumsi obat Klamidia di atas, waspadai efek samping ditimbulkan. Seperti diare, sakit perut, gangguan pencernaan, dan mual. Selain itu, bila meminum doxycycline, Anda akan mengalami ruam kulit ketika terpapar sinar matahari.

Pada mayoritas kasus, infeksi penyakit Klamidia ini akan sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu. Selama melakukan pengobatan, Anda bisa tidak boleh melakukan hubungan seks. Tujuannya, untuk mencegah penyebaran bakterinya.

Selain itu, dokter biasanya akan menyarankan pasangan Anda untuk melakukan cek kesehatan serupa. Sebab, Anda dan pasangan harus diobati dan disembuhkan bersamaan. Jika tidak, penularan bakteri Klamidia bisa saja kembali terjadi dan saling menularkan satu sama lain.

Meski demikian, pasien yang pernah terjangkit belum sepenuhnya terbebas dari penyakit Klamidia. Sebab, tubuh tidak akan kebal dengan bakteri ini. Anda pun bisa saja terinfeksi kembali, jika melakukan hubungan seksual beresiko di masa mendatang. Hati-hati!