Kenali Penyakit Endometriosis, Kondisi yang Perlu Diawasi Wanita

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

penyakit endometriosis

Hai Ladies, pernah mendengar penyakit endometriosis? Penyakit endometriosis ini biasanya mengincar para wanita dan perlu kamu awasi keberadaannya. Biasanya diawali dengan keluhan nyeri haid yang lumrah terjadi pada wanita sebelum atau sewaktu menstruasi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan, endometriosis mengancam 6 hingga 10 persen wanita usia produktif. Sebagian besar wanita seringnya tidak terdiagnosis dan baru diketahui setelah jalani pemeriksaan.

Yuk kita bahas lebih lanjut mengenai penyakit endometriosis yang perlu kita awasi. Berikut selengkapnya…

Apa itu Endometriosis?

Endometriosis merupakan radang akibat pertumbuhan lapisan dinding rahim yang muncul di luar dinding rahim.

Lapisan yang terbilang abnormal tersebut terus menebal dan bisa pecah saat siklus menstruasi. Kondisi inilah yang bisa membuat rasa sakit yang tak tertahankan. Hormon estrogen juga bisa memicu gejala yang cukup parah. Biasanya gejala ini timbul di masa-masa reproduksi.

Melansir Health Line, penyakit endometriosis merupakan kelainan di mana jaringan yang mirip dengan jaringan yang membentuk lapisan atau selapit lendir rahim (endometrium) tumbuh di luar rongga rahim.

Intinya, gangguan ini terbentuk ketika jaringan endometrium tumbuh di usus, ovarium, maupun jaringan yang melapisi panggul.

Jaringan endometrium yang timbul di luar rahim ini dikenal juga sebagai implan endometrium. Perubahan hormonal dalam siklus menstruasi bisa memengaruhi jaringan endometrium yang salah tempat, sehingga menyebabkan area tersebut meradang dan nyeri.

Sementara normalnya, endometrium atau jaringan dinding rahim akan menebal ketika kamu akan mengalami ovulasi (indung telur melepaskan telur).

Dinding rahim akan mempersiapkan diri untuk menebal agar calon janin bisa menempel pada rahim – apabila terjadi pembuahan.

Tapi kala tak ada pembuahan, endometrium yang telah menebal ini akan meluruh. Saat itu lah kamu mengalami haid. Soal penyebab kondisi ini terjadi, sampai saat belum diketahui secara pasti.

 

Baca juga: Sakit Ketika Buang Air Kecil, Waspadai Ragam Kondisi Ini

Tingkatan Penyakit Endometriosis

Penyakit Endometriosis sendiri memiliki empat tingkatan, yang tergantung kepada lokasi, jumlah, ukuran, dan kedalaman lapisan endometrium. Berikut empat tingkatan endometriosis dan ciri-cirinya:

  • Endometriosis minimal. Tumbuh jaringan endometrium yang dangkal dan kecil di indung telur. Peradangan juga bisa muncul di sekitar rongga panggul.
  • Endometriosis ringan. Adanya jaringan endometrium yang kecil dan dangkal di indung telur dan dinding panggul.
  • Endometriosis menengah. Adanya beberapa jaringan endometrium yang terbilang dalam di area indung telur.
  • Endometriosis berat. Adanya jaringan endometrium yang dalam di indung telur, dinding panggul, saluran indung telur, dan usus.

 

Gejala Penyakit Endometriosis

Dilansir dari Medical News Today, gejala ini bisa berkembang dari waktu ke waktu lantaran lesi ikut membesar. Dalam jangka waktu yang lama, penyakit ini bisa saja mengganggu fungsi tubuh, seperti menutup tuba falopi. Rasa sakit yang muncul juga bisa mengganggu kemampuan untuk beraktivitas.

Ciri-ciri atau tanda:
– keram akut sewaktu menstruasi
– sakit pinggul dan punggung bagian bawah jangka panjang
– menstruasi berlangsung lebih dari tujuh hari
– pendarahan yang parah
– Merasa nyeri, diare, sembelit, dan perut kembung
– feses atau urine berdarah
– mual dan muntah
– kelelahan
– nyeri saat berhubungan intim
– bercak atau berdarah di luar masa menstruasi

Baca juga: Nyeri Panggul: Gejala, Penyebab, Diagnosis dan Cara Mengobati

Penyebab Endometriosis

Meski belum diketahui apa penyebab kondisi ini, namun para ahli menduga penyakit ini dipicu oleh beberapa kondisi, diantaranya seperti:

  • Retrograde menstruation atau aliran darah menstruasi berbalik arah.
  • Gangguan system kekebalan tubuh
  • Perubahan sel yang belum matang
  • Perubahan sel peritoneum
  • Perpindahan sel endometrium
  • Prosedur bedah

Faktor Risiko Endometriosis

Para ahli meyakini jika sekiranya ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang wanita mengalami gangguan ini. Di antaranya adalah:

  • Berusia antara 25-40 tahun
  • Riwayat endometriosis pada ibu, bibi, atau saudara perempuan
  • Belum pernah melahirkan
  • Mengalami kelainan rahim
  • Menderita kondisi tertentu yang dapat menghalangi jalur darah menstruasi
  • Mengonsumsi minuman beralkohol
  • Mulai menstruasi pada usia yang terlalu muda
  • Siklus menstruasi yang singkat, misalnya kurang dari 27 hari
  • Mengalami menopause pada usia yang lebih tua dari batas normal.

Baca juga: Bukan Hanya Panu, Ini Dia Penyebab Bintik Putih di Kulit

Diagnosis

Umumnya dokter mendiagnosis dengan melihat beberapa gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Dan untuk memastikan, dokter akan melakukan laparoskopi. Melalui laparoskopi, dokter dapat mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk diteliti di laboratorium.

Laparoskopi adalah satu-satunya metode yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit endometriosis. Selain untuk mendiagnosis, laparoskopi juga bisa digunakan sebagai metode pengobatan.

Pengobatan

Pengobatan penyakit endometriosis yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi gejala, memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium di luar rahim, meningkatkan kesuburan, dan mencegah gangguan ini kambuh.

Metode pengobatan biasanya terdiri dari pemberian obat, dengan terapi hormon, hingga prosedur bedah, tergantung pada tingkat keparahan gejala dan apakah masih ada keinginan untuk mempunyai keturunan.

Karena gangguan ini dipengaruhi hormone estrogen, maka pengobatan juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat hormone penekan estrogen dan meringankan gejala. Untuk lebih lanjut kamu bisa ke dokter ahli untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Jangan ragu untuk berkonsultasi ila Anda mengalami gangguan ini dengan hubungi dokter kami di 0821-1141-0672 (WA/SMS/TLP) atau klik layanan konsultasi. Lebih cepat dideteksi, maka akan lebih mudah pula diobati.

Referensi:
Mayo Clinic. Endometriosis
Healthline. Endometriosis.
WebMD. Endometriosis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *