SUNAT SOLUSI CERDAS ATASI FIMOSIS PADA ANAK DAN ORANG DEWASA

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

fimosis pada anak
Sunat solusi cerdas atasi fimosis pada anak dan orang dewasa.

 

Selain parafimosis, gangguan kulup penis adalah fimosis pada anak. Pun, fimosis juga kerap ditemui pada pria dewasa. Sebab, penyakit ini sering ditemui pada penis yang belum disunat.

Gangguan kulup memang rawan terjadi. Banyaknya bakteri yang berkumpul pada kepala penis menjadikan alat vital menjadi tidak sehat. Penanganan ekstra pun harus dilakukan. Jika tidak, penyakit seputar kelamin bisa saja menjangkiti.

Apa itu Fimosis?

Apa sebenarnya fimosis? Fimosis adalah kelainan pada kulup penis yang melekat kencang pada kepala penis. Sehingga kulup tak dapat ditarik ke belakang melewati kepala penis.

Biasanya, fimosis pada anak terjadi di rentang umur dua hingga enam tahun. Karena menjelang remaja kulup penis secara alami akan mulai terpisah dari kepala penis. Meski demikian, kasus pada beberapa anak, kulup tak bisa ditarik hingga usia 17 tahun.

Jadi, bila fimosis pada bayi dan balita terjadi, hal itu masih dianggap wajar. Selama tidak timbul masalah di fungsi penis, misal kesulitan buang air kecil.  Jika sampai terjadi, penanganan fimosis pada bayi haruslah lebih serius lagi. Dokter pun harus sesegera mungkin melakukan tindakan medis.


Penyebab Fimosis

Sebelum mencari tau penyebab fimosis, Anda bisa mengenali gejalanya. Secara umum penyakit fimosis memang tak akan menimbulkan nyeri atau gejala apa pun yang signifikan.

Tetapi, untuk mencermatinya, penderita fimosis lazimnya memiliki kecenderungan tak bisa membersihkan kotoran yang berada pada area di bawah kulup penis.  Sehingga membuat penis menjadi lebih rentan terkena infeksi.

Namun, bila fimosis sudah mengalami infeksi yang parah, maka akan muncul gejala yang bisa diidentifikasi. Seperti kulit penis berwarna merah, bengkak atau nyeri. Parahnya lagi, bila memang semakin kronis, fimosis bisa menyebabkan kesulitan untuk buang air kecil.

Yang paling membuat tidak nyaman, fimosis kronis juga akan membuat Anda mengalami gangguan hubungan seksual. Anda pun merasakan nyeri yang tak tertahan, kulit penis pecah-pecah, atau kurang mendapat sensasi nikmat ketika berhubungan seksual.

 

Adapun penyebab fimosis yang bisa Anda ketahui sebagai berikut:

Bawaan lahir. Fimosis bisa terjadi karena bawaan lahir dari si penderita. Fimosis muncul karena sejak bayi si penderita memang sudah memiliki kulup yang ketat sehingga tak bisa ditarik dari kepala penis.

Diabetes. Sementara pada aspek medis, seseorang bisa terkena fimosis karena mengidap penyakit diabetes. Pada penyakit ini, pasien akan mudah terkena infeksi yang bisa membentuk jaringan parut pada kulup. Akibatnya, kulit menjadi tidak elastis dan sulit ditarik.

Infeksi penis. Selain itu, infeksi pada penis juga bisa membuat penderita mengalami balanitis yakni peradangan pada kepala penis atau balanoposthitis yakni peradangan pada kulup dan kepala penis.

Hubungan seksual. Infeksi lainnya yang dapat memicu fimosis dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi ini sering dialami pria dewasa.

Gangguan kulit. Penyakit pada kulit bisa memicu timbulnya fimosis. Seperti psosiaris, lichen sclerosus (lesi pada kulup atau  terkadang kepala penis), lichen planus (ruam gatal non-infeksi), serta eksim yang membuat gatal, pecah-pecah dan kering.

Usia. Semakin Anda berumur, tingkat elastisitas berkurang. Termasuk kelenturan kulit kulup yang bisa membuat kulup tak dapat ditarik.

Tarikan dan peregangan yang keras. Kedua hal tersebut dapat membuat kulit kulup robek dan mengalami peradangan, hingga mengarah pada fimosis.


Fimosis Pada Anak

Fimosis pada anak atau fimosis pada bayi memang merupakan kasus yang sering terjadi. Kondisinya, kulup menempel dan melekat erat pada kepala penis. Sehingga kulup tak bisa ditarik kembali ke sekitar ujung penis. Meski, terbilang umum, situasi seperti ini wajib diwaspadai.

Ada beberapa kasus fimosis pada bayi yang memang baru diketahui ketika bermasalah hingga masa pubertas. Imbasnya, dokter pun harus senantiasa melakukan pengobatan khusus terhadap kondisi fimosis seperti ini.

Pasalnya, bila Anda meremehkan kasus fimosis pada anak ini, penyakit lain bisa saja menghantui. Peradangan akan terjadi pada kepala penis yang menyebabkan penis menjadi kemerahan, nyeri, dan bengkak.

 

Pengobatan Fimosis

Kuncinya, jangan anggap fimosis pada anak ini sebagai hal yang biasa terjadi. Karena bila tidak langsung ditangani anak Anda akan bisa mendapat masalah serius di alat vitalnya. Sebagian besar kasus fimosis bukan merupakan masalah yang serius dan tidak membutuhkan pengobatan tertentu.

Namun, jika sudah mulai semakin parah, tindakan sirkumsisi atau sunat bisa menjadi pilihan yang tepat. Atau bila Anda tak ingin mengambil resiko lebih jauh, langsung saja lakukan sunat di saat anak Anda masih balita.

Otomatis, penis yang dimiliki sang buah hati akan terbebas dari penyakit fimosis dan parafimosis. Sebab, sudah tak ada lagi kulup yang menempel yang menyebabkan dua penyakit tadi muncul.

Sementara untuk fimosis bagi pria dewasa, solusi sunat juga menjadi pilihan yang cerdas. Apalagi, pria dewasa juga aktif secara seksual sehingga lebih rentan terkena fimosis.

Sunat memang dianggap sebagai cara mengobati fimosis yang tepat untuk kebutuhan jangka Panjang. Selain itu, Anda juga dituntut untuk rutin membersihkan penis bila tak ingin penyakit lainnya menjangkiti Anda. Seperti infeksi jamur pria dan penyakit eksim di kelamin.

Klinik Pandawa memiliki dokter ahli dan berpengalaman dalam menangani pasien Fimosis ataupun Sunat. Jadi, Anda tak perlu ragu untuk mendapatkan penanganan yang terbaik dan terpercaya.

Apabila membutuhkan informasi dan pengobatan lebih lanjut silahkan berkonsultasi online gratis ke dokter kami melalui bit.ly/2VdMqLL atau menghubungi 0821-1141-0672/ 021-62313337  whatsapp / SMS / telp. Kami dengan senang hati melayani Anda. Segala rahasia medis terjamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *