Waspada, Gangguan Hipogonadisme Pada Pria Buat Susah Ereksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

penyebab hipogonadisme

Tampaknya semua pria wajib tahu gangguan seksual satu ini, yaitu Hipogonadisme. Di mana gangguan ini bisa membuat pria alami kesulitan ereksi sehingga aktivitas seksual pun terganggu. Bahkan kondisi ini bisa berdampak pada hubunganmu. Lantas seperti apa kondisi ini dan apa penyebab hipogonadisme pada pria? Yuk kita cari tahu bersama di bawah ini.

Perlu diketahui, gangguan seksual hipogonadisme tak hanya dialami oleh pria saja tetapi wanita pun bisa. Gejala hipogonadisme pada pria yang paling umum ditemui yaitu penis susah ereksi. Dengan gangguan seksual ini lantas peluang memiliki keturunan akan sulit. Sebab itu jika kamu mengalami gangguan penis jangan sepelekan, segeralah periksakan diri ke dokter.

Apa itu gangguan seksual Hipogonadisme?

Jika akhir-akhir ini kamu kurang bergairah dan lemah di ranjang sebaik perlu memperhatikan ini. Namanya mungkin terbilang asing di telinga, hipogonadisme merupakan suatu kondisi ketika gonad atau kelenjar seks pada tubuh menghasilkan sangat sedikit atau sama sekali tidak memproduksi hormon.

Kelenjar seks pada pria tersimpan di buah zakar atau testis, sementara pada wanita berada di ovarium. Pada pria hal ini memicu gangguan seksual seperti kesulitan ereksi.

Nah, sementara itu ada dua jenis hipogonadisme pria, yaitu:

  • Primer

Hipogonadisme jenis ini muncul sebab adanya gangguan pada kelenjar gonad. Pada dasarnya kelenjar gonad sudah menerima sinyal perintah dari otak agar memproduksi hormon seks. Namun, kelenjar tersebut tidak mampu memproduksinya.

  • Sekunder atau sentral

Pada hipogonadisme jenis sekunder, masalahnya terletak pada sistem otak. Dimana kelenjar pituitari di otak dan hipotalamus yang berfungsi mengatur kerja kelenjar gonad alami gangguan.

Baca juga: Infeksi Kelamin Bisa Sebabkan Penyakit Radang Panggul pada Wanita

Lantas, apa hubungannya hipogonadisme dengan ereksi?

Dalam dunia medis, hipogonadisme sendiri diartikan sebagai kondisi dimana hormon seksual berada di bawah jumlah normalnya. Hormon itu sendiri diproduksi oleh kelenjar seksual pada pria yang disebut testis atau wanita disebut ovarium.

Pada pria, hormon ini mengatur karakteristik seksual sekunder. Misalnya, perkembangan testis dan produksi sperma. Nah, apabila tak ditangani dengan tepat, kekurangan hormon inilah yang berakibat kemungkinan mengalami disfungsi ereksi.

Ketidakseimbangan hormon ini sebenarnya tak cuma menyoal hipogonadisme saja. Pasalnya, ada juga kondisi lainnya, seperti hipertiroid (kelebihan hormon tiroid) dan hipotiroid. Keduanya juga bisa menimbulkan gangguan disfungsi ereksi.

Nah, ketika kadar hormon testosteron menurun, para pria biasanya akan merasakan banyak gejala atau ciri-ciri yang berkaitan dengan fungsi seksualnya. Misal saja, gangguan disfungsi ereksi, infertilitas atau ketidaksuburan, hingga berkurangnya hasrat seksual.

Perlu diketahui, hipogonadisme yang tak diobati bisa saja menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Sebut saja, osteoporosis, gangguan pertumbuhan testis dan penis, pengurangan massa otot, hingga tubuh mudah kelelahan.

Baca juga: Peremajaan Vagina dengan PRP Ampuh Kembalikan Kepercayaan Diri

Penyebab Hipogonadisme

Pemicu dari gangguan ini tentu berbeda antara jenis primer dan sekunder. Penyebab dari hipogonadisme primer meliputi:

  • kelainan genetik, seperti sindrom Klinefelter dan Turner
  • penyakit autoimun,
  • infeksi berat
  • penyakit hati dan ginjal
  • testis yang tidak turun
  • hemokromatosis atau kelebihan zat besi pada tubuh
  • efek radiasi
  • operasi pada organ seksual

Sementara penyebab hipogonadisme sekunder meliputi:

  • kelainan genetik, seperti sindrom Kallmann, di mana hipotalamus tidak berkembang secara normal
  • gangguan kelenjar pituitari
  • penyakit peradangan seperti tuberkulosis
  • infeksi seperti HIV//AIDS
  • penggunaan obat steroid dan opiat jangka panjang
  • kecelakaan pada kelenjar pituitari atau hipotalamus
  • terdapat tumor dekat kelenjar pituitari
  • operasi otak
  • obesitas
  • penurunan berat badan yang cepat
  • defisiensi nutrisi
  • radiasi

Baca juga: Miliki Bibir Sensual dengan Suntik Filler Aman & Tanpa Efek Samping

Tanda-tanda Hipogonadisme

Adapun tanda-tanda atau gejala hipognadisme berhubungan dengan organ seksual, yaitu:

  • kehilangan rambut tubuh
  • hasrat seksual yang menurun atau menghilang
  • infertilitas
  • kehilangan massa otot
  • osteoporosis
  • kelelahan
  • susah berkonsentrasi
  • pertumbuhan payudara yang tidak normal pada laki-laki
  • menurunnya pertumbuhan penis dan testis
  • disfungsi ereksi
  • hot flushes

Baca juga: 7 Tips Cara Mempertahankan Ereksi Kuat dan Tahan Lama

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang memungkinkan seseorang terkena hipogonadisme, antara lain:

  • Hal tersebut dapat dilihat melalui lingkar perut, yaitu apabila pria kurang dari 90 sentimeter
  • Kadar gula meningkat lebih dari 100 mg/dl.
  • Trigliserid meningkat lebih dari 150 mg/dl.
  • Penurunan HDL, yaitu kurang dari 40 mg/dl untuk pria dan kurang 50 mg/dl untuk wanita
  • Tekanan darah tinggi lebih 130/85 mmHg.

Bagaimana mencegah gangguan seksual ini?

Gangguan seksual ini akan susah dicegah apabila disebabkan oleh faktor genetik, autoimun, tumor, infeksi, atau sebagainya. Sementara itu, hipogonadisme bisa dicegah apabila dipicu oleh obesitas, penurunan berat badan yang cepat, serta malnutrisi. Cara mencegah gangguan ini yaitu dengan menerapkan gaya hidup sehat seperti diet sehat dan olahraga teratur, agar hormon tubuh tetap stabil.

Baca juga: Doi Lagi Gak Mood? Ini Dia 7 Penyebab Gairah Seksual Perempuan Menurun

Pengobatan yang bisa diterapkan?

Bagi pria pengobatan ini bisa ditempuh dengan menyuntikan hormon testosteron, penggunaan koyo, gel atau obat resep yang diletakkan pada bawah lidah.

Sementara pengobatan lain yang diakibatkan tumor pituitari bisa dilakukan dengan radiasi, obat-obatan atau pembedahan untuk menghilangkan tumornya.

Komplikasi Hipogonadisme

Adapun beberapa komplikasi hipogonadisme apabila tak kunjung diatasi, antara lain:

  • Disfungsi ereksi.
  • Gairah seksual menurun.
  • Gangguan pertumbuhan penis dan testis.
  • Ginekomastia (kelenjar payudara pria membesar)
  • Kekurangan rambut pada tubuh.
  • Tidak subur
  • Osteoporosis.
  • Pengurangan massa otot.
  • Pertumbuhan tidak proporsional, seperti lengan atau tungkai yang lebih panjang.
  • Tubuh mudah lelah.

Kapan harus periksa ke dokter?

Apabila sahabat pandawa mengalami gangguan seksual hipoganadisme dan mengalami gejala sama seperti di atas. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Kamu bisa berkonsultasi gratis atau buat janji bersama dokter Klinik Pandawa. Langsung saja WA/TLP/SMS di nomor 0821-1141-0672 atau klik KONSULTASI GRATIS. Semua data pasien terjamin kerahasiaannya.

Referensi:
HCP.nebido.com.Hypogonadism
Healthline. hypogonadism
Mayoclinic.Male-hypogonadism

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *