Perhatikan 7 Penyebab Iritasi Pada Vagina dan Cara Mengatasinya!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

iritasi vagina

Sahabat pandawa, pernah alami gatal di kelamin, aroma tak sedap keluar dari miss V, atau keluar cairan berbekas di pakaian dalam? Mungkin kamu sedang mengalami tanda-tanda iritasi vagina. Kondisi iritasi pada vagina ini banyak penyebabnya. Seperti keringat berlebih ataupun pemilihan bahan pakaian. Apalagi bila dilihat lokasi nya yang berada di area bawah dan tertutup sehingga sering diabaikan. Lalu apa saja penyebab iritasi vagina ini, dan bagaimana mengatasinya? Simak terus artikel selengkapnya di bawah ini.

 

Penyebab Iritasi Vagina

Berikut ini beberapa penyebab lain yang bisa menimbulkan iritasi vagina, diantaranya meliputi:

  1. Terpapar zat iritan

Iritasi merupakan zat atau sesuatu yang memicu reaksi, dan bisa menyebabkan kulit terasa gatal. Zat yang sering menyebabkan iritasi di sekitar organ-organ intim wanita, termasuk sabun, krim, pelembut kain, pembersihan vagina dan deterjen.

  1. Infeksi jamur atau ragi

Infeksi ragi atau jamur juga bisa membuat iritasi yang cukup besar di area vagina. Iritasi vagina ini menimbulkan beberapa gangguan pada wanita seperti nyeri saat kencing hingga tak nyaman saat beraktivitas seksual. Infeksi vagina ini hanya bisa disembuhkan dengan antibiotik sesuai dengan anjuran dokter. Selanjutnya menjaga kebersihan dari vagina.

  1. Perubahan hormon

Perubahan hormon yang terjadi pada wanita seperti saat akan menstruasi juga bisa memicu iritasi vagina. Kondisi ini cukup wajar sehingga wanita tak bisa menghindarinya. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga kebersihan dari vagina agar tidak terlalu sakit saat kondisi ini muncul.

  1. Folikulitis

Folikel atau akar rambut di area rambut kemaluan yang berpengalaman infeksi dapat memicu pembengkakan di daerah vagina dan membuatnya merasa tidak nyaman saat bergerak karena sering meluncur pakaian dalam.

Kondisi ini bisa terjadi akibat area rambut kemaluan, berkeringat, dan jarang diperhatikan kebersihannya. Tak cuma itu, iritasi vagina akibat dicukur dengan pisau cukur juga menimbulkan luka dan akhirnya terkena bakteri. Kondisi ini bisa diatasi dengan salep antibiotik atau dikompres agar pembengkakan tidak terlalu besar.

Baca juga: Eksim Basah dan Eksim Kering, Apa Bedanya?

  1. Iritasi vagina akibat Infeksi menular seksual

Infeksi menular seksual juga bisa memicu masalah vagina seperti terasa perih yang cukup mengganggu. Infeksi vagina yang memicu rasa perih pada tubuh terdiri dari klamidia, gonore, herpes kelamin, dan kutil kelamin.

Selain menyebabkan rasa nyeri yang berlebihan. Seseorang dengan kondisi ini juga akan mengalami beberapa hal yang mengganggu seperti rasa sakit saat bercinta dan berkemih.

Selanjutnya ada juga perdarahan ringan, keluar cairan mirip keputihan, dan muncul semacam bercak merah di area kelamin.

  1. Psoriasis

Psoriasis biasanya memicu gangguan pada tubuh seperti penebalan kulit dan kadang muncul semacam sisik. Nah, di area vagina juga bisa mengalami psoriasis atau penyakit autoimun yang membuat area vagina agak kemerahan, perih dan sakit.

Cara tepat untuk atasi masalah psoriasis ini yakni ke dokter kulit. Biasanya akan diberi semacam krim steroid yang digunakan untuk mengatasi rasa tidak nyaman di tubuh.

Biasanya untuk mengatasi penyakit kulit psoriasis atau dermatitis, baiknya melakukan terapi cahaya seperti terapi UV untuk menyembuhkan kulit.

  1. Iritasi Vagina akibat Menopause

Saat memasuki masa menopause, kadar hormon estrogen menurun. Hal ini menyebabkan kulit di sekitar organ intim Anda cenderung menjadi lebih tipis dan kering. Kondisi tersebut dapat membuat kulit di bagian kewanitaan menjadi rentan mengalami iritasi dan gatal.

Baca juga: Berikut Ini Macam dan Fungsi Hormon Pada Wanita yang Perlu Diketahui

Dampak Bila Iritasi Vagina Tidak Diobati

Gejala iritasi vagina yang paling awal adalah munculnya kemerahan yang terkadang disertai rasa gatal-gatal. Sayangnya, banyak wanita yang kurang sadar dengan tanda-tanda ini dan membiarkannya begitu saja. Menganggap kondisi akan baik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya baru menyadari vagina menjadi iritasi setelah ruam bermunculan.

Berikut beberapa kemungkinan penyakit yang berisiko terjadi jika iritasi vagina tidak diobati.

  • Bacterial vaginosis

Untuk diketahui ada bakteri yang tak selalu jahat, ada juga bakteri baik yang ikut menjaga kesehatan tubuh. Sebut saja bakteri baik pada sistem pencernaan dan juga pada area vagina. Namun, bakteri baik dan bakteri jahat akan terus bersaing, jika lebih banyak jumlahnya maka bakteri tersebutlah yang akan menang.

Penyakit ini menyebabkan perubahan pada lendir; menjadi lebih banyak dan berbau tidak sedap serta akan menimbulkan sensasi nyeri dan terbakar saat buang air atau berhubungan seks. Jika tidak diatasi, kondisi ini bisa memengarungi kesuburan.

  • Infeksi saluran kemih

Selain bakteri vaginosis di atas, bakteri jahat yang terus berkembang biak bisa memicu penyakit infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri jahat, terutama bakteri E. colli yang menumpuk pada vagina, bisa meluas ke area kandung kemih dan menyebabkan peradangan.

Tanda-tanda ISK yang umumnya terjadi seperti demam, rasa nyeri dan sensasi panas saat buang air kecil, serta sakit di pinggang dan perut bagian bawah. Kondisi ini mungkin membuat kamu ingin terus buang air, tapi hanya sedikit urin yang dikeluarkan.

 

Tips Mencegah Iritasi Vagina

  • Hati-hati memilih pembalut. Kelembapan yang tinggi terjadi saat menstruasi.  Artinya, kamu harus memilih pembalut yang tidak membuat area vagina bertambah lembap. Carilah pembalut berbahan lembut dan cepat menyerap. Seperti memiliki pori-pori yang berguna sebagai sirkulasi udara sehingga area miss V akan tetap kering dan berfungsi baik.
  • Tidak menggunakan produk pembersih vagina yang bisa merusak keseimbangan asam vagina. Sebaiknya, basuh vagina dengan lembut dengan air bersih dan mengalir setiap kali buang air. Kemudian, usap dengan tisu supaya vagina tetap kering.
  • Hindari celana yang ketat dan berbahan kasar. Pilih celana yang berbahan katun yang lembut dan dapat menyerap keringat dengan baik.

 

Kapan harus ke dokter?

Bilamana kamu merasakan gejala atau tanda-tanda seperti gatal di kelamin, muncul ruam-ruam, bentol atau bahkan kencing sakit dan bau tak sedap keluar dari miss V. Jangan tunda untuk konsultasi pada ahlinya. Karena dari iritasi vagina tersebut juga bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih parah bila tak cepat ditangani.

Bila sahabat pandawa ingin konsultasi terlebih dahulu dengan dokter online bisa hubungi kami melalui 0821-1141-0672/ 021-62313337 atau dapat klik link KONSULTASI GRATIS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *