Paronikia, Infeksi Kulit Di Sekitar Kuku yang Perlu Diwaspadai

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

paronikia

Sebenarnya paronikia merupakan kondisi yang sangat umum terjadi. Biasanya wanita lebih banyak mengalami penyakit ini dibandingkan pria. Rasionya mencapai sekitar 3:1 antara wanita dan pria. Selain itu, angka kejadian penyakit ini relatif tidak berbeda jauh pada pasien dari berbagai golongan usia.

Penyakit ini dapat diatasi dan dihindari dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif, mari kita simak pembahasan lengkap mengenai paronikia berikut ini.

 

Definisi Paronikia

Paronikia merupakan infeksi yang terjadi pada kulit di sekitar kuku baik kuku tangan maupun kuku kaki. Infeksi ini dapat terjadi akibat adanya infeksi jamur, bakteri, atau virus tertentu. Paronikia yang disebabkan oleh bakteri dapat memburuk lebih cepat dibandingkan dengan paronikia yang disebabkan oleh jamur.

Kondisi ini timbul karena adanya gangguan antara lapisan dari lempeng kuku dan dasar kuku bagian proksimal (menjauhi tubuh). Jaringan kulit yang ada di sekitar kuku yang terinfeksi akan menjadi bengkak, lunak, meradang, dan terasa sakit pada saat disentuh.

Durasi timbulnya penyakit ini dapat bervariasi. Pada umumnya, gejala dapat timbul perlahan-lahan dan berlangsung seminggu, atau timbul secara tiba-tiba dan berlangsung hanya satu sampai dua hari. Jadi paronikia dapat timbul secara mendadak dan berkembang cepat (akut), atau bertahap dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang (kronis).

Pada umumnya paronikia akut hanya melibatkan infeksi pada satu kuku jari. Sedangkan, paronikia kronis dapat terjadi pada lebih dari satu kuku jari. Kondisi ini dapat terjadi untuk waktu yang bersamaan atau berulang.

Risiko infeksi juga akan terjadi lebih tinggi bila terdapat luka atau trauma, misalnya suka menggigit kuku, menghisap jari, sering mencuci piring, atau terpapar zat kimia tertentu.

Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, penyakit ini dapat menimbukan infeksi yang jauh lebih serius. Pada kasus yang parah, jaringan-jaringan kulit pada jari Anda akan mengalami kerusakan dan harus dilakukan amputasi.

 

Klasifikasi Paronikia

Penyakit ini dapat diklasifikasikan  menjadi 2 jenis, yaitu:

1.    Paronikia akut

Gangguan pada kuku jenis ini dapat berkembang selama berjam-jam atau berhari-hari. Infeksi ini umumnya tidak menyebar jauh ke jari. Perawatan yang dilakukanpun akan dapat mengurangi gejala dengan relatif cepat.

Pada umumnya penyebab penyakit jenis ini adalah trauma langsung atau tidak langsung pada kutikula atau lipatan kuku. Trauma yang relatif kecil sekalipun yang diakibatkan oleh kejadian biasa, misalnya pencuci piring yang cedera akibat serpihan atau duri, menggigit kuku tangan, mencabut kutikula ( kulit ) kuku dan kuku yang tumbuh ke dalam, manicure, adanya hangnails atau bintil kuku dan trauma fisik lainnya dapat menimbulkan paronikia akut. Paronikia akut dapat berkembang menjadi komplikasi sehingga timbullah paronikia kronis.

2.    Paronikia kronis

Paronikia kronis merupakan reaksi peradangan multifaktorial dari lipatan kuku terhadap iritasi dan alergen. Penyakit jenis ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya mencuci piring, menghisap jari, memotong kutikula secara agresif, dan sering melakukan kontak dengan bahan kimia.

Penyakit ini dapat timbul pada jari tangan dan kaki Anda. Perkembangan infeksi pada paronikia jenis ini lebih lambat. Sedangkan, durasi penyembuhannya memerlukan waktu hingga berminggu-minggu. Infeksi pada penyakit ini berpotensi dapat muncul kembali di lain waktu.

Kutikula yang lepas dari lempeng kuku dan menimbulkan daerah antara lipatan kuku proksimal dan lempeng kuku menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri dan jamur patogen seringkali timbul pada paronikia kronis ini.

 

Gejala Paronikia

Pada umumnya, gejala awal penyakit ini berupa pembengkakan, kemerahan dan rasa sakit apabila disentuh pada kulit jari di sekitar kuku. Pada sebagian kasus paronikia, abses (kumpulan nanah) dapat terbentuk di kulit sekitar kuku.

Gejala pada paronikia akut maupun kronis pada umumnya sama atau sangat mirip sehingga sulit dibedakan. Pembedaan gejala kedua paronikia tersebut dilakukan berdasarkan onset dan durasi infeksi atau lama cepatnya gejala tersebut berkembang. Infeksi pada paronikia akut berkembang dengan cepat dan tidak berlangsung lama. Sedangkan infeksi pada paronikia kronis yang dialami oleh penderita dapat terjadi secara perlahan, dan timbul selama beberapa minggu.

Kedua jenis infeksi tersebut dapat memiliki gejala yang bervariasi tergantung pada jenis dan durasi infeksi penyakit ini antara lain sebagai berikut:

  • Rasa sakit, pembengkakan, dan ruam kemerahan ( erythema ) di sekitar pangkal, sisi kuku ataupun pada kulit di sekitar kuku.
  • Kelembutan kulit atau kulit menjadi lunak di sekitar kuku.
  • Lepuhan atau kantung berisi nanah ( abses ) di samping atau pangkal kuku
  • Perubahan bentuk kuku, warna kuku, ataupun tekstur kuku.
  • Kutikula ( lapisan kulit yang berada tepat di pangkal kuku ) yang pecah
  • Terpisahnya atau lepasnya lempeng kuku dari dasar kuku.
  • Kuku menjadi lebih rapuh dan rentan terlepas
  • Hipertropi (pembesaran akibat pembengkakan sel) pada kuku sebagai pertanda timbulnya infeksi jamur

 

Penyebab Paronikia

Patogen utama yang menyebabkan penyakit ini adalah bakteri, jamur, atau kondisi dari keduanya. Patogen tersebut adalah:

  1. Bakteri Staphylococcus Aureus dan Enterococcus biasanya menjadi penyebab paronikia akut. Meskipun demikian bakteri  Streptococcus PyogenesPseudomonas Pyocyanea, dan Proteus Vulgaris juga dapat menyebabkan paronikia akut. Kerusakan kulit di sekitar kuku dalam paronikia akut biasanya disebabkan oleh kebiasaan menggigit kuku, mencabut kulit di sekitar kuku, alat manicure yang kurang bersih, membersihkan kutikula kuku terlalu keras atau trauma fisik lainnya. 
  2. Jamur Candida atau Candida albicans yaitu jamur yang menyerang lesi biasanya menjadi penyebab paronikia kronis. Jamur ini seringkali ditemukan di lingkungan yang lembab dan berair. Oleh karena itu, orang-orang yang sering bekerja di area yang penuh air menjadi berisiko untuk mengalami paronikia kronis.

 

Faktor Risiko Paronikia

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit ini adalah:

  • Pekerjaan
    Contoh pekerjaan yang dapat menjadi faktor risiko penyakit ini adalah nelayan, tukang cuci baju atau piring, bartender, ataupun pemerah susu.
  • Luka
    Kuman akan masuk ke lapisan di dalam kulit yang terbuka. Kondisi ini dapat terjadi karena kebiasaan menggigit kuku, teknik manicure kuku yang kurang baik, maupun kuku rusak yang diakibatkan oleh eksim atau dermatitis kontak.
  • Kondisi Kuku
    Memakai kuku palsu dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kuku menjadi lembab. Hal tersebut dapat menimbulkan pertumbuhan kuman yang dapat menyebabkan infeksi. Cantengan yang diakibatkan oleh arah pertumbuhan kuku yang salah juga dapat berisiko pada timbulnya penyakit ini.
  • Jenis Kelamin
    Penyakit ini lebih banyak ditemukan terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Hal ini berarti wanita berisiko lebih tinggi untuk mengalami paronikia atau infeksi di sekitar kuku.
  • Terlalu sering menggunakan sarung tangan
    Memakai sarung tangan yang terlalu sering dapat membuat kondisi yang lembab pada bagian dalam tangan. Hal itu akan menimbulkan resiko pertumbuhan  jamur dan bakteri di daerah yang lembab tersebut.
  • Pernah terpapar zat kimia tertentu di jari
    Jika jari Anda pernah terpapar oleh zat kimia tertentu, sebaiknya Anda harus waspada karena peluang terjadinya infeksi pada kulit di sekitar kuku Anda akan jauh lebih besar.

 

Diagnosis Paronikia

Pada umumnya dokter akan mendiagnosis penyakit ini dengan melihat ada-tidaknya infeksi yang terjadi pada kuku. Penyakit ini dapat dengan mudah didiagnosis melalui pemeriksaan fisik pada kuku dan kulit di sekitarnya.

Jika diperlukan, dokter akan mengambil sampel nanah atau cairan dari kuku atau area yang terinfeksi untuk diperiksa. Sampel tersebut akan diteliti di laboratorium untuk mengetahui penyebab infeksi sehingga dokter dapat menentukan perawatan atau pengobatan yang tepat untuk penderita.

 

Komplikasi Paronikia

Penyakit yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu berbagai permasalahan lainnya. Walaupun jarang terjadi, paronikia dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut:

  • Abses.
  • Perubahan permanen pada bentuk kuku.
  • Infeksi yang menyebar ke tendon, tulang, dan aliran darah.

 

Pencegahan Paronikia

Penyakit ini dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal dibawah ini:

  • Gunakan sarung tangan dengan lapisan katun didalamnya jika pekerjaan menyebabkan Anda sering bersentuhan dengan air.
  • Menghindari penggunaan sarung tangan dalam waktu yang terlalu lama.
  • Menghindari untuk terkena air dalam waktu yang lama.
  • Tidak memakai kuku palsu untuk waktu yang lama.
  • Mengeringkan tangan dan kaki setiap selesai menyentuh air.
  • Menghindari menggigit kuku atau mencabut kulit di sekitar kuku.
  • Melakukan pemeriksaan pada kaki setiap hari untuk mewaspadai paronikia atau gangguan lain di kaki, karena kelainan pada kaki kerap tidak dirasakan oleh penderita diabetes.
  • Menghindari untuk melukai kuku dan ujung jari.
  • Menjaga atau merawat kuku dengan baik agar tetap rapi dan halus.
  • Menghindari untuk memotong kuku terlalu pendek dan mengikis atau memotong kutikula karena dapat melukai kulit.
  • Menggunakan gunting kuku yang bersih saat memotong kuku.
  • Menjaga tangan tetap kering dan bebas dari bahan kimia.
  • Mengganti kaus kaki setiap hari
  • Tidak menggunakan sepatu yang sama selama dua hari berturut-turut.

 

Pengobatan Di Klinik Pandawa

Pengobatan yang dilakukan terhadap penderita paronikia akan bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi yang terjadi padanya, termasuk kategori akut atau kronis.

Jika Anda memiliki gejala paronikia yang tergolong ringan, Anda hanya perlu melakukan perawatan sederhana di rumah sebagai berikut :

  • Rendam tangan atau kaki dengan menggunakan air hangat selama 15 hingga 20 menit, 3 hingga 5 kali sehari untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri dan pembengkakan.
  • Makan obat pereda rasa sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen.
  • Menggunakan alas kaki yang nyaman, terutama yang terbuka di bagian jari

Jika gejala paronikia tidak membaik, maka Anda dapat segera melakukan pengobatan lebih lanjut ke dokter atau klinik.

Apabila abses sudah terbentuk dan pembengkakan di jari kaki sudah sangat besar, Dokter akan melakukan bedah minor dengan membuat irisan pada abses untuk membuang nanah. Dalam proses ini, dokter akan mengambil sampel nanah untuk diperiksa di laboratorium sehngga dapat mengetahui penyebab infeksi agar dapat memberikan penanganan yang tepat.

Klinik Pandawa sebagai salah satu klinik kulit terbaik di kota Jakarta menyediakan layanan untuk pengobatan paronikia. Dokter yang berpengalaman, alat-alat kesehatan yang modern, dan fasilitas yang memadai menjadikan Klinik Pandawa pilihan tepat bagi Anda yang ingin melakukan pengobatan paronikia. Dokter di Klinik Pandawa akan menyarankan pengobatan atau tindakan medis yang tepat untuk menangani paronikia yang Anda derita.

Anda dapat berkonsultasi online dengan dokter kami secara gratis di nomor 0821-1141-0672/021-6231-3337 (telepon/SMS/WA) atau melalui link layanan. Dapatkan promo menarik setiap bulannya untuk berbagai layanan kesehatan di Klinik Pandawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

klinik-pandawa-logo-white.png

Tanya Dokter sekarang

Konsultasikan keluhanmu
dengan Dokter Kami yang Berpengalaman